Akhirnya, laju kencang Manchester United berakhir. Tidak cuma sekali, mereka dua kali tertahan dalam selang waktu hanya tiga hari saja.
Tanda-tanda krisis? Belum tentu. Setidaknya sampai saat ini mereka masih memegang catatan tidak terkalahkan. Tapi penampilan mereka mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dihentikan oleh tim manapun. Alibi utama mereka jelas: kehilangan banyak pemain inti. Setidaknya ada tujuh hingga delapan nama pemain senior yang kemarin absen saat menjamu Basel di Liga Champions.
Yet again, ini harusnya menjadi pembuktian kedalaman skuad United yang di awal-awal musim disebut memiliki bench paling kuat dibanding tim manapun. Hasilnya? Bench ini terbukti sangat kuat saat menghadapi Leeds United. Menang 3-0 di Carling Cup. Tapi itu tim divisi Championship. Saat pindah ke Liga Premier, ceritanya kembali berbeda.
Tanda-tanda krisis? Belum tentu. Setidaknya sampai saat ini mereka masih memegang catatan tidak terkalahkan. Tapi penampilan mereka mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dihentikan oleh tim manapun. Alibi utama mereka jelas: kehilangan banyak pemain inti. Setidaknya ada tujuh hingga delapan nama pemain senior yang kemarin absen saat menjamu Basel di Liga Champions.
Yet again, ini harusnya menjadi pembuktian kedalaman skuad United yang di awal-awal musim disebut memiliki bench paling kuat dibanding tim manapun. Hasilnya? Bench ini terbukti sangat kuat saat menghadapi Leeds United. Menang 3-0 di Carling Cup. Tapi itu tim divisi Championship. Saat pindah ke Liga Premier, ceritanya kembali berbeda.
Stoke City menjadi lawan. Dalam sebuah pertandingan tandang yang berat, Wayne Rooney mendadak harus absen. Johnny Evans lebih mendadak lagi –sebelum kick off. Dan hanya beberapa menit setelah kick off, Javier Hernandez harus terpincang-pincang keluar. Hantaman cedera ini membuat penampilan United menjadi goyah. Dan hanya karena penampilan brilian David De Gea di bawah mistar gawang lah mereka bisa pulang dari Stoke dengan mengantongi satu poin.
Selanjutnya, FC Basel datang ke Old Trafford. Sebuah tempat suci yang terakhir kali bisa dicuri poinnya oleh West Brom musim lalu. United pun diyakini bisa mendapatkan tiga poin perdananya di Eropa musim ini dengan mulus. Ternyata malah sebaliknya. Sebuah rollercoaster penuh drama terjadi semalam. Keunggulan 2-0 mereka melalui upaya Danny Welbeck musnah begitu saja. Bahkan, tim tamu sempat unggul 3-2 sebelum akhirnya Ashley Young menunjukkan tipikal tanpa menyerah United dengan menciptakan gol penyama di menit-menit akhir.
Jelas. Hasil imbang 3-3 menghadapi tim dari Swiss di kandang sendiri bukanlah hasil yang positif. Sir Alex Ferguson pun sudah menunjukkan murka-nya di media. Terbayang treatment hairdryer macam apa yang dilakukannya di dalam ruang ganti. Terhentinya United ini membuat kita kembali mengingat musim lalu. Chelsea sepanjang awal musim mampu terus menang dan menciptakan banyak gol. Kemudian? Mereka mulai berkali-kali terbentur dan mengakhiri musim tanpa gelar.
Weekend ini, The Red Devils akan mencari pembuktian diri. Masih dibayangi cedera –meski kabarnya Hernandez siap kembali- kemenangan atas Norwich City menjadi target mutlak. Karena, let’s face it, United lebih sering membuang-buang poin begitu saja saat menghadapi tim semacam ini.
Apa yang harus dilakukan Phil Jones dan kawan kawan? Sederhana saja. Kembali tampil percaya diri dan menemukan lagi sentuhan yang mereka punyai dari awal musim hingga babak pertama menghadapi Chelsea dua pekan silam. Karena setelah itu, United didn’t look the same.
Kompetisi masih amat sangat panjang. United juga masih belum merasakan apa yang dinamakan kekalahan. Tapi dua hasil imbang beruntun dari tim yang di atas kertas harusnya bisa mereka lewati setelah menghantam tim semacam Arsenal, Spurs, dan Chelsea bisa menjadi semacam lampu kuning bagi mereka.
Sebuah peringatan dini bahwa jika tidak hati-hati, dominasi dini mereka bisa dikudeta oleh tim lainnya dalam waktu dekat. Supersoccer

Tidak ada komentar:
Posting Komentar